Puan Minta Balita Jadi Prioritas Penanganan Bencana Karhutla

Puan Minta Balita Jadi Prioritas Penanganan Bencana Karhutla

Puan minta balita jadi prioritas penanganan bencana Karhutla

Ketua DPR RI Puan Maharani meminta pemerintah mempercepat penanganan dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama terhadap kesehatan anak balita.

Desakan ini muncul setelah puluhan ribu anak di wilayah terdampak dilaporkan mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat paparan kabut asap.

Puan menilai kondisi tersebut tidak boleh dianggap sebagai persoalan biasa. Pemerintah perlu memastikan setiap anak yang mengalami gangguan kesehatan memperoleh pertolongan medis dan perlindungan yang memadai selama bencana berlangsung.

Dalam keterangan pers pada Rabu 21 Oktober, Puan menanggapi kekhawatiran keluarga yang tinggal di sekitar lokasi kebakaran.

Banyak orangtua menghadapi kecemasan ketika anak mereka mengalami masalah pernapasan akibat kualitas udara yang memburuk.

Menurut Puan, penanganan karhutla harus mencakup upaya melindungi kelompok rentan, khususnya bayi dan balita.

Ia meminta keselamatan anak ditempatkan sebagai bagian penting dalam setiap kebijakan penanggulangan bencana.

Politikus PDI-P itu juga mendorong pemerintah memberikan penjelasan mengenai perkembangan kondisi kesehatan anak-anak yang terdampak. Informasi tersebut diperlukan agar masyarakat mengetahui langkah penanganan serta pemulihan yang sedang dijalankan.

Selain pemantauan kesehatan, Puan menekankan pentingnya kesiapan fasilitas medis di daerah terdampak.

Ketersediaan obat-obatan, tenaga kesehatan, dan peralatan medis harus diperhatikan supaya warga dapat memperoleh layanan sesuai kebutuhan.

Ia turut mengusulkan agar biaya pengobatan korban karhutla dibebaskan sehingga masyarakat tidak terbebani ketika membutuhkan perawatan.

DPR RI, lanjutnya, akan mengoptimalkan pengawasan melalui komisi-komisi terkait untuk memastikan penanganan bencana berjalan dengan baik.

Data Kementerian Kesehatan per 17 Oktober 2026 mencatat sebanyak 311.363 kasus ISPA terjadi di tujuh provinsi yang terdampak karhutla. Sebanyak 70.239 kasus di antaranya dialami anak berusia di bawah lima tahun.

Jumlah tersebut memperlihatkan besarnya ancaman kabut asap bagi kesehatan masyarakat, terutama anak-anak yang masih rentan mengalami gangguan pernapasan.

Baca juga: Yusril sebut, korupsi bikin pejabat BUMN takut ambil risiko