Nasional

Air Laut Surut Saat Krakatau Erupsi, Badan Geologi Klarifikasi

Air laut surut saat Krakatau erupsi, Badan Geologi klarifikasi

Sebuah rekaman mengenai air laut yang terlihat mengalami surut mendadak ramai dibagikan di media sosial.

Video tersebut memunculkan kekhawatiran setelah narasi yang menyertainya menghubungkan fenomena itu dengan aktivitas Gunung Anak Krakatau serta kemungkinan munculnya tsunami.

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) kemudian memberikan penjelasan terkait informasi tersebut.

Lembaga itu menyatakan bahwa surutnya air laut dalam rekaman yang viral tidak memiliki keterkaitan langsung dengan erupsi Gunung Anak Krakatau.

Surveyor Pemetaan Ahli Madya Badan Geologi, Athanasius Cipta, mengatakan rekaman tersebut memang telah beredar luas dalam beberapa hari terakhir.

Namun, waktu terjadinya fenomena air laut surut tidak sesuai dengan aktivitas erupsi yang sebelumnya berlangsung di Anak Krakatau.

Gunung Anak Krakatau tercatat mengalami erupsi pada 4 dan 5 September 2026. Sementara itu, Badan Geologi menyebut aktivitas erupsi tersebut telah berakhir pada tengah malam tanggal 6 September 2026.

Karena itu, Athanasius menegaskan bahwa surutnya air laut yang terjadi pada 6 September tidak dapat langsung dianggap sebagai dampak dari erupsi tersebut.

Hubungan antara kedua peristiwa itu tidak ditemukan berdasarkan waktu dan kondisi aktivitas gunung api.

Meski begitu, fenomena laut surut memang sering menimbulkan pertanyaan karena dalam beberapa kejadian dapat berkaitan dengan tsunami.

Athanasius menjelaskan bahwa air laut yang mundur secara ekstrem dan berlangsung sangat cepat dapat menjadi salah satu tanda tsunami.

Namun, tidak semua kondisi laut surut otomatis menandakan gelombang tsunami akan datang.

Fenomena tersebut perlu dibedakan dengan perubahan air laut yang terjadi secara normal akibat pasang dan surut.

Sejarah Krakatau sendiri pernah mencatat beberapa peristiwa tsunami besar. Salah satunya terjadi pada Desember 2018 ketika aktivitas Anak Krakatau memicu tsunami yang menerjang wilayah pesisir Banten dan Kalianda, Lampung.

Letusan Krakatau pada 1883 juga menyebabkan tsunami dahsyat dengan gelombang tinggi yang melanda sejumlah daerah. Bahkan, dampaknya tercatat hingga wilayah Jakarta.

Baca juga: Anggota TNI AU tewas usai dianiaya 4 senior karena mie goreng
Penguin

Recent Posts

Eks Bupati Gowa Sitti Husniah Ditahan terkait Dugaan Korupsi

Eks Bupati Gowa Sitti Husniah ditahan terkait dugaan korupsi Mantan Bupati Gowa, Sitti Husniah Talenrang,…

2 jam ago

Viral, Orang Tua Diduga Bersikap Kasar kepada Dua Balita di Lift

Viral, Orang Tua Diduga Bersikap Kasar kepada Dua Balita di Lift Video dari kamera pengawas…

13 jam ago

Tombol SOS Tak Sengaja Tertekan, Penumpang Langsung Panik

Tombol SOS tak sengaja tertekan, penumpang langsung panik Penumpang Commuter Line mendadak bunyi alarm setelah…

14 jam ago

Minta Uang Beli Narkoba, Pemuda ini Diduga Aniaya Ibu Kandung

Minta uang beli narkoba, pemuda ini diduga aniaya ibu kandung Laporan warga mengenai dugaan kekerasan…

23 jam ago

Kabar Duka, Mantan Panglima TNI Widodo Adi Sutjipto Meninggal

Kabar duka, mantan Panglima TNI Widodo Adi Sutjipto meninggal Kabar meninggalnya mantan Panglima Tentara Nasional…

24 jam ago

RI Bangga, Raharjati Nursamsa Raih Perak di Santiago 2026

RI Bangga, Raharjati Nursamsa raih perak di Santiago 2026 Atlet panjat tebing Indonesia, Raharjati Nursamsa,…

1 hari ago

This website uses cookies.