Iran tak ada damai: Kami tak kenal negara Israel.
Dalam pernyataan yang membakar panggung diplomasi Internasional, Duta besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, menyuarakan ketegasan negaranya dengan nada keras:
“Kami tidak mengenal negara yang bernama Israel. Yang kami kenal adalah sebuah rezim pendudukan, pasukan bersenjata yang menjajah tanah yang bukan miliknya,”
Pernyataan itu disampaikan dengan sorotan mata tajam suara bergetar, dirumah dinasnya yang mendadak menjadi pusat perhatian dunia.
Dengan nada getir, Mohammad menyebut serangan Israel ke Teheran sebagai pemnatik nyala api perang yang kini membara hebat di Timur Tengah.
Perang yang dibalas Nyawa dengan Nyawa Ledakan dasyat mengguncang langit Iran pada 13 Juni 2025.
Sekitar 200 jet tempur Israel menyerbu lebih dari 100 lokasi strategis, termasuk fasilitas nuklir, pabrik rudal balistik, hingga markas militer utama.
Tak hanya itu, serangan brutal ini menewaskan pejabat tinggi militer dan ilmuwan nuklir Iran, serta meratakan kawasan pemukiman sipil.
Balasan Iran datang seperti badai petir di malam kelam. Tepat 16 Juni 2025, lebih dari 270 rudal dan drone tempur diluncukan dengan satu tujuan: menghancurkan jantung kekuatan Israel.
Kota-kota besar seperti Tel Aviv, Haifa,hingga Bat Yam menjadi ladang api, saat rudal-rudal Iran menghujam, menebus pertahanan Iron Dome yang selama ini dibanggakan.
Deru sirine, kobaran api, dan suara ledakan silih berganti memenuhi langit Israel.
Korban jiwa berjatuhan, infrastruktur porak poranda, dan rakyat sipil terperangkap dalam mimpi buruk yang nyata.
Dengan penolakan Iran terhadap gencatan senjata, dunia kini berdiri di tepi jurang perang regional besar-besaran.
Selanjutnya, ketegangan tak lagi terbendung, dan waktu seolah berjalan mundur menuju satu kata: kehancuran.
“Kami akan terus melawan sampai penduduk itu lenyap dari peta dunia,” tutup Mohammad, penuh keyakinan dan dendam sejarah yang mengakar.

