Titiek Soeharto Apresiasi Pemerintah Soal Pupuk Subsidi Petani

Titiek Soeharto Apresiasi Pemerintah Soal Pupuk Subsidi Petani

Titiek Soeharto apresiasi pemerintah soal pupuk subsidi petani

Ketua Komisi IV DPR, Siti Hediati Soeharto atau suka dipanggil Titiek Soeharto, mengapresiasi langkah pemerintah menyederhanakan tata kelola pupuk bersubsidi melalui pemangkasan 145 regulasi.

Kebijakan ini dinilai mempercepat distribusi pupuk sehingga dapat diterima petani tepat waktu.

“Kami menyampaikan apresiasi kepada pemerintah yang sudah memotong aturan-aturan yang tadinya itu 145 aturan untuk mendapatkan pupuk ini. Ini dipotong, diperpendek sekali sehingga petani dapat pupuk ini tepat waktu,” kata Titiek Soeharto, Jumat 26 Juni 2026.

Tak hanya pemangkasan birokrasi, Titiek juga mengapresiasi penurunan HET pupuk bersubsidi sebesar 20 persen yang membantu petani menekan biaya produksi.

“Pemerintah sudah memberikan diskon pada harga pupuk bersubsidi sebesar 20 persen sehingga ini sangat membantu bagi petani-petani dan petani lebih bergairah lagi untuk bercocok tanam dalam rangka kita segera swasembada pangan ini,” katanya.

Ia juga menanggapi pentingnya akurasi data petani melalui sistem e-RDKK sebagai dasar penyaluran pupuk yang tepat sasaran.

Dengan peran penyeluruh pertanian yang dinilai strategis dalam membantu petani mengisi data tersebut.

Sementara itu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebut ketersediaan pupuk bersubsidi menjadi faktor utama meningkatnya produksi beras nasional, di tengah ancaman krisis pangan global.

Berdasarkan laporan FAQ edisi Juni 2026, Indonesia tercatat sebagai produsen beras terbesar di Asia Tenggara dan peringkat keempat dunia, dengan proyeksi produksi sekitar 38,6 juta ton.

Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian Kementerian Pertanian, Andi Nur Alam Syah.

Memastikan stok pupuk bersubsidi masih mencukupi hingga musim tanam berikutnya.

Hingga 25 Juni 2026, realisasi penyaluran pupuk bersubsidi telah mencapai 54,28 persen dari total alokasi nasional sebesar 9,55 juta ton.

Menyisakan sekitar 5,1 juta ton yang siap dimanfaatkan petani di seluruh Indonesia.

Baca juga: Kabinet Teddy ungkap gaji magang Rp5,5 juta, naik jika direkrut