Iran menolak keras proposal damai dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan memilih menetapkan syaratnya sendiri, di tengah perang yang masih berjalan.
Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menegaskan Teheran tidak berniat bernegosiasi.
“Saat ini, kebijakan kami adalah melanjutkan perlawanan,” katanya. Ia juga menambahkan, “Kami tidak berniat untuk bernegosiasi, belum ada negosiasi yang terjadi.”
Namun begitu, Iran menyatakan perang hanya akan berakhir jika ada penghentian permanen serangan serta kompensasi atas kerusakan.
Teheran juga menuntut jaminan konkret agar agresi tidak berulang, serta pengakuan atas haknya mengelola Selat Hormuz.
Tak hanya itu, Iran menginginkan kesepakatan mencakup kelompok sekutunya di kawasan, termasuk implikasi pada konflik di Lebanon.
Seorang pejabat Iran menyebut proposal AS “ditanggapi secara negatif” dan menegaskan, “Perang akan berakhir ketika Iran memutuskan, bukan ketika Trump membayangkan,” kata pejabat Iran yang tidak disebut namanya, Rabu 25 Maret 2026.
Di sisi militer, sikap keras juga ditegaskan. Komando Iran menyatakan, “orang seperti kami tidak akan pernah berdamai dengan orang seperti Anda, tidak sekarang, tidak pernah,” seraya menyindir, “Jangan sebut kekalahanmu sebagai kesepakatan.”
Upaya mediasi oleh Turki, Pakistan, dan Mesir belum membuahkan hasil, terutama karena ketidakpercayaan Iran terhadap AS setelah dua serangan sebelumnya saat negosiasi berlangsung.
Presiden AS mengklaim pembicaraan tetap berjalan dan bahkan menyebut AS telah “memenangkan” konflik.
Namun, sejumlah analis menilai Iran justru memegang keunggulan, termasuk kendali atas jalur strategis energi.

