Parah, rupiah makin anjlok Rp17,500 per dolar Amerika Serikat
Makin kesini harga tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika Serikat semakin melemah, meskipun Bank Indonesia (BI) telah melakukan berbagai cara intervensi di pasar keuangan.
Kondisi inilah terlihat setelah rupiah kembali menembus level Rp17,500 per dolar Amerika Serikat (AS) Mei 2026.
Lembaga Institute for Strategic and Economic Action Institution (ISEAI) menilai upaya BI menjaga stabilitas kurs mulai kehilangan aktivitas di tengah kombinasi tekanan global dan domestik yang terus membesar.
Dalam laporan terbarunya, ISEAI menyebut BI sebenarnya telah mengerahkan berbagai instrumen stabilitasi, mulai dari intervensi pasar valuta asing.
Transaksi Non-Delivery Forward (NDF), penarikan dana hingga pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
Tetapi, berbagai kebijakan tersebut dinilai belum mampu meredam tekanan pasar yang terus meningkat.
“Penembusan level R17,000 pada awal April 2026 menjadi sinyal awal bagi pasar bahwa intervensi BI mulai menemui titik jenuh,” tulis ISEAI, Kamis, 14 Mei 2026.
ISEAI menanggapi posisi sulit yang sekarang dihadapi bank sentral.
Bi disebut berada dalam kondisi “Impossible Trinity” atau trilema moneter
Yaitu situasi ketika otoritas moneter tidak dapat secara bersamaan mempertahankan stabilitas nilai tukar.
Dan menjaga independensi kebijakan suku bunga, dan membuatkan arus modal bebas.
Tak hanya negara Indonesia, mata uang utama negara maju juga mayoritas melemah.
Euro Eropa turun 0,17 persen, poundsterling Inggris melemah 0,18 persen, dolar Australia terkoreksi 0,24 persen.
Juga dolar Kanada turun 0,10 persen, serta franc Swiss melemah 0,19 persen terhadap dolar AS.

