Saluran Israel Sebut Indonesia jadi Kontributor Awal Pasukan Perdamaian ke Gaza

Saluran Israel Sebut Indonesia jadi Kontributor Awal Pasukan Perdamaian ke Gaza

Saluran Israel sebut Indonesia jadi Kontributor awal pasukan perdamaian ke Gaza

Saluran Israel melaporkan Indonesia berpeluang menjadi negara pertama yang mengirim pasukan ke Jalur Gaza sebagai bagian dari Pasukan Stabilitasi Internasional (Internasional Stabilization Force/ISF).

Pasukan ini dirancang untuk menjalankan fungsi pemeliharaan perdamaian selama Fase II gencatan senjata Gaza yang diinasiasi Amerika Serikat.

Dalam beberapa bulan terakhir, Indonesia sering disebut sebagai salah satu kandidat kontributor ISF bersama Uni Emirat Arab, Mesir, Italia, Azerbaijan, Pakistan, Qatar, dan Turki.

Namun, sampai saat ini, belum ada negara yang secara resmi menyatakan kepastian mengirim personel militer ke Gaza.

Pasukan Indonesia diperkirakan dapat tiba dalam beberapa pekan ke depan, tak lama setelah residen Prabowo Subianto dijadwalkan menghadiri.

“KTT Perdamaian untuk Kemakmuran” yang digelar Presiden AS Donald Trump di Washington pada 19 Februari.

KTT tersebut disebut sebagai pertemuan perdana Board of Peace (BoP), forum diplomatik bentukan Trump, di mana Indonesia tercatat sebagai salah satu anggota.

Baik ISF maupun kontingen Indonesia tidak diarahkan untuk berkonfrontasi lansgung dengan Hamas atau melakukan pelucutan senjata.

Peran utama mereka adalah mengawasi garis gencatan senjata dan menangani masalah keamanan perbatasan.

Tentara Indonesia, diproyeksikan mengawasi sejumlah titik pertahanan di wilayah Khan Younis dan Rafah, Gaza selatan.

Meskipun, masih terdapat sejumlah persoalan teknis yang harus dirampungkan, termasuk aturan ketertiban jika terjadi kontak dengan Hamas, sejumlah pasukan dikerahkan, serta negara lain yang akan menyusul berpartisipasi.

Sampai saat ini, pemerintah dan militer Indonesia belum memberikan pernyataan resmi.

Namun, undangan Indonesia untuk menghadiri awal BoP telah dikonfirmasi.

Baca juga: Sadis nelayan Indonesia terlantar di Afrika dan ratusan hari tidak dibayar