Seorang santri bakar asrama putra Pondok Pesantren karena dibully
Polres Banda Aceh Joko Heri Purwono menyebut pelaku, yang masih di bawah umur, mengaku nekat membakar asrama karena menjadi korban pembulian.
“Pelaku mengaku sering mengalami tindakan bullying yang dilakukan oleh beberapa temannya. Hal ini menyebabkan pelaku merasa tertekan secara mental. Pelaku merasa tertekan karena sering diejek dan diperlakukan tidak pantas oleh teman-temannya,” kata Joko, Jumat 7 November 2025.
Pelaku sekarang ditahan di Lemabaga Pembinaan Khusus Anak Banda Aceh.
Pimpinan Ponpes Babul Maghfirah, Masrul Aidi, membantah keras adanya praktik perundungan di lingkungan pesantrennya.
“Seolah-olah dayah adalah ruang pembulian anak-anak, padahal kami sudah punya tim pencegah dan penanganan kekerasan di sekolah,” katanya, Sabtu 8 November 2025,.
Masrul juga menilai motif bullying tidak masuk akal.
Menurutnya, pelaku merupakan santri kelas 3 SMA yang justru paling senior.
“Siapa yang mem-bully? Dia yang senior,” ungkapnya.
Ia juga menambahkan, selama tiga tahun belajar, santri tersebut tidak pernah melapor mengalami pembulian, baik ke guru maupun keluarga.
“Sudah tiga tahun menjadi murid di pesantren Babul Maghfirah, kenapa dia tidak melapor? Atau kepada guru-gurunya yang lain yang dia berinteraksi, atau kenapa dia tidak melapor kepada ibunya selama 3 tahun tersebut,” ucapnya.
“Rasanya tidak masuk akal hanya gara-gara disebut bodoh dan tolol menggerakan dia untuk melakukan kejahatan separah itu,” katanya.

