Spirit Airlines gulung tikar, akibat konflik Iran hancurkan maskapai Amerika Serikat
Maskapai Spirit Airlines menjadi perusahaan penerbangan pertama di Amerika Serikat yang mengalami kebangkrutan akibat dampak lanjutan perang Iran.
Lonjakan harga bahan bakar pesawat (avtur) yang terus meningkat membuat beban operasional perusahaan tak lagi mampu ditanggung.
Kondisi keuangan maskapai ini sudah berada di titik rapuh setelah menghadapi kebangkrutan untuk kedua kalinya dalam kurun kurang dari dua tahun terakhir.
Tetapi, kenaikan biaya bahan bakar yang semakin tajam akhirnya menggagalkan seluruh rencana restrukturisasi yang telah disiapkan manajemen.
Upaya terakhir untuk menyelamatkan perusahaan dengan mengajukan bantuan darurat kepada pemerintah Presiden Donald Trump juga tidak membuahkan hasil.
Perbedaan pandangan di internal pemerintah serta penolakan dari sejumlah pemegang obligasi yang enggan menerima skema pengurangan keuntungan menjadi penghambatan utama.
CEO Spirit Airlines, Dave Davis, menyampaikan bahwa perusahaannya selama ini berkomitmen menyediakan akses perjalanan udara dengan harga terjangkau bagi masyarakat.
Namun, tekanan dari lonjakan biaya bahan bakar dan faktor operasional lainnya membuat kondisi finansial semakin memburuk.
“Sangat mengecewakan dan bukan hasil yang diinginkan siapa pun dari kita,” katanya.
Krisis yang menimpa Spirit Airlines disebut hanya bagian dari persoalan yang lebih luas di industri penerbangan global.
American Airlines bahkan telah memperingatkan kenaikan biaya bahan bakar hingga 4 miliar dolar AS pada tahun ini, yang berbalik dari proteksi keuntungan sebelumnya.
Baca juga: Presiden Prabowo Subianto kumpulkan Menhan dan TNI-Polri, bahas pendidikan juga pertahanan.

