AS Blokir KAAN, bagaimana dengan nasib Indonesia?
Pemerintah Turki menghadapi hambatan besar dalam program jet tempur generasi kelima KAAN setelah Amerika Serikat memblokir ekspor mesin F110 GE.
Menteri Luar Negeri Turki, Hasan Fidan, mengonfirmasikan bahwa Kongres Amerika Serikat menolak permintaan Ankara.
Mempertegas ketegangan hubungan pertahanan kedua negara sejak Turki membeli sistem S-400 dari Rusia.
Keputusan ini menunda fase penting program KAAN dan menimbulkan tanda tanya lagi negar-negara yang berminat.
Termasuk Indonesia, yang sebelumnya telah resmi menandatangani kontrak pembelian 48 unit pesawat temput KAAN dari Turki, sebagai bagian dari upaya modernisasi TNI AU.
Namun, tanpa kepastian mesin, kelanjutan pengadaan tersebut dipandang rawan risiko.
Tapi di sisi lain, Turki berupaya mempercepat pengembangan masin lokal TRMotor.
Meski begitu analis memperkirakan butuh waktu bertahun-tahun hingga mesin ini siap operasional.
Opsi mencari pemasok dari Rusia atau China juga terbuka, tetapi berisiko memperburuk hubungan Turki dengan AS dan NATO.
Situasi ini menambah lapisan ketidakpastian yang harus diperhitungkan Indonesia bila tetap tertarik membeli KAAN.
Meskipun belum ada respon resmi dari dsri pemerintah, situasi ini akan menempatkan Indonesia sekarang berada pada posisi starategis untuk menilai kembali prioritasnya, apakah akan menunggu perkembangan KAAN atau segera memastikan pengadaan dari sumber lain.
Jakarta kemungkinan akan menjadikan perkembangan ini sebagai bahan pertimbangan utama dalam negosiasi modernisasi armada tempur TNI AU.

