Jennifer Coppen kini lebih bahagia, kisah cintanya dengan Justin
Kebahagiaan Jennifer Coppen bersama pesepak bola Timnas Indonesia, Justin Hubner, menjadi babak baru dalam perjalanan hidupnya. Setelah melewati berbagai pengalaman pahit, Jennifer kini kembali menemukan kebahagiaan dalam hubungan yang dijalaninya. Keduanya dikabarkan menikah pada 12 Juni 2026 di Uluwatu, Bali.
Jennifer juga sering menunjukkan dukungannya kepada Justin, termasuk ketika hadir langsung untuk menyaksikan pertandingan Timnas Indonesia di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK).
Namun, kehidupan Jennifer tidak selalu berjalan mulus seperti yang terlihat sekarang. Di balik senyum dan kebahagiaan yang ditunjukkannya, terdapat pengalaman kehilangan yang meninggalkan luka mendalam.
Hal tersebut ia ceritakan saat berbincang dengan Cinta Laura Kiehl dalam program C.E.O. yang tayang di kanal YouTube pribadi Cinta.
Baca juga: Pelukan hangat Elkan Baggott & Erick Thohir usai Garuda juara
Dalam kesempatan itu, Jennifer mengungkapkan sejumlah pengalaman yang membentuk perjalanan hidupnya. Ia pernah menghadapi persoalan keluarga, mengalami perundungan, hingga harus beradaptasi dengan sorotan publik sejak usia muda.
Walaupun begitu, kehilangan suaminya, Dali, menjadi salah satu peristiwa paling berat yang harus diterimanya.
Jennifer mengaku sempat merasa tidak sanggup melanjutkan kehidupan seperti biasa setelah kepergian Dali.
Ia kehilangan semangat untuk bekerja, menjalankan bisnis, bahkan sekadar keluar rumah dan bertemu orang lain. Keinginan untuk menyendiri begitu kuat hingga ia sempat merasa masa depannya telah berakhir.
Perlahan, pemikirannya berubah ketika ia mengingat keberadaan putrinya, Kamari Sky Wassink. Jennifer menyadari bahwa sang anak masih membutuhkan perhatian, kasih sayang, dan kehadiran seorang ibu.
Kesadaran itulah yang mendorongnya untuk mencoba bangkit, meskipun rasa kehilangan belum sepenuhnya mereda.
Alih-alih terus larut dalam kesedihan, Jennifer mulai mencari cara untuk menyalurkan emosinya melalui kegiatan yang disukai, salah satunya membuat kue.
Aktivitas tersebut kemudian menjadi langkah awal untuk kembali produktif sekaligus membangun sesuatu yang dapat memberikan manfaat bagi putrinya.
Meski mulai menemukan kesibukan baru, Jennifer tidak menampik bahwa kesedihan masih sering datang. I
a bahkan mengaku tetap menangis ketika sedang membuat kue karena teringat kenangan bersama Dali dan rencana masa depan yang belum sempat terwujud.

