Bi bongkar alasan rumah kecil anjlok parah hingga 45,59 persen
Penjualan rumah tapak primer tipe kecil mengalami penurunan paling tajam pada awal 2026.
Berdasarkan Survei Harga Properti Residensial Bank Indonesia, penjualan rumah kecil turun 45,59 persen secara tahunan pada triwulan I 2026.
Penurunan ini jauh lebih tinggi dibandingkan rumah tipe menengah yang turun 8,84 persen dan rumah tipe besar yang turun 19,64 persen pada periode yang sama.
Secara keseluruhan, penjualan properti residensial masih bergerak naik.
BI mencatat Indeks Harga Properti Residensial pada triwulan IV 2025 yang masih mencatat pertumbuhan 0,73%.
Walaupun permintaan turun, harga properti residensial masih bergerak naik.
BI mencatat Indeks Harga Properti Residensial pada triwulan I 2026 tumbuh 1,07% secara tahunan, lebih tinggi dari triwulan sebelumnya sebesar 0,39%.
Sejumlah hambatan masih membayangi pengembangan properti, mulai dari kenaikan harga bahan bangunan, perizinan dan birokrasi, hingga suku bunga KPR.
Dari sisi pembiayaan, mayoritas pengembangan masih memakai dana internal untuk membangun proyek properti.
Sementara itu, pembiayaan dari perbankan hanya mencakup 16,11%.
Di tingkat konsumen, KPR masih menjadi pilihan utama pembelian rumah primer dengan porsi 69,87%.
Sisanya dilakukan melalui tunai bertahap sebesar 20,11% dan tunai keras 10,02%. Namun, pertumbuhan KPR ikut melambat.
Pada triwulan I 2026, pertumbuhan KPR residensial hanya 4,79% secara tahunan, turun dari 7,05% pada triwulan IV 2026.

