Presiden AS akan siapkan cadangan minyak di Pakistan.
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan akan siapkan cadangan minyak yang sangat besar di negara Pakistan, negara Islam bersenjata nuklir di Asia Selatan.
Kemudian dia mengeklaim Washington telah sepakat akan bekerja sama dengan Islamabad dalam proyek tersebut.
“Kami baru saja menyelesaikan kesepakatan dengan Negara Pakistan, dimana Pakistan dan Amerika Serikat akan bekerja sama dalam mengembangkan cadangan minyak mereka yang sangat besar,” tulis Presiden AS, 31 Juli 2025.
Lanjut,”Kami sedang dalam proses memilih perusahaan minyak yang akan memimpin kemitraan ini,” sambung Donald Trump.
“Kami sangat sibuk di Gedung Putih hari ini mengerjakan kesepakatan perdagangan.” kata Trump.
“Saya telah berbicara dengan para pemimpin dari banyak negara, yang semuanya ingin membuat Amerika Serikat ‘sangat bahagia’. Saya akan bertemu dengan delegasi perdagangan Korea Selatan sore ini,” ungkap Trump.
Berikutnya, pengumuman Donald Trump memberikan detail lebih lanjut tentang kesepakatan antara AS dan Paskitan.
Kedutaan Besar Pakistan di Washington juga belum memberikan komentar.
Baca juga: Jemaah Umrah di Tangkap Polisi Arab Saudi Usai Kibarkan Bendera Palestina
Selanjutnya minggu lalu Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar mengatakan Amerika Serikat dan Pakistan “sangat dekat” dengan kesepakatan perdagangan yang dapat tercapai dalam beberapa hari.
Setelah dia bertemu dengan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pada hari Jumat.
Washington telah meruding kembali perjanjian perdagangan dengan banyak negara yang diancamnya dengan tarif.
Atas apa yang disebutnya sebagai hubungan perdagangan yang tidak adil. Banyak ekonomi menipis pertanyaan Trump tersebut.
Departemen Luar Negeri AS dan Kementerian Luar Negeri Pakistan, dalam pertanyaan terpisah setelah pertemuan Rubio dengan Dar.
Ia mengatakan bahwa kedua diplomat tinggi tersebut menekankan kepentingan memperluas perdagangan dan hubungan di bidang mineral dan pertambangan penting dalam diskusi mereka.
“Tim kami telah berada di Washington untuk berdiskusi, mengadakan pertemuan virtual.
Dan sebuah komite telah ditugaskan oleh Perdana Menteri untuk menyempurnakannya sekarang,” ungkap DAR.

