Program OK OCE Sudah Berjalan, Bagaimana Kondisinya Saat Ini?

Program OK OCE Sudah Berjalan, Bagaimana Kondisinya Saat Ini?

Program OK OCE Sudah Berjalan, Bagaimana Kondisinya Saat Ini?

Kata OK OCE mungkin lebih dari sekadar program yang ditawarkan oleh pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno di kancah Pilgub 2017. Gimiknya yang mudah diingat, membuat kata OK OCE menjadi bagian dari bahasa ‘kekinian’ saat itu –tidak hanya bagi pendukung keduanya.

Berkat OK OCE pula Anies-Sandi berhasil menumbangkan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat dalam dua babak Pilgub DKI.

Merunut ke belakang, OK OCE yang berarti One Kecamatan One Center Enterpreneurship, lahir dari otak bisnis Sandiaga Uno. Program ini merupakan program pembinaan kewirausahawan yang targetnya akan ada di 44 kecamatan di Jakarta. Program paling nyata dari OK OCE ini adalah pendirian minimarket dengan nama “OK OCE Mart.”

Di awal-awal pengenalannya, program yang punya misi melahirkan wirausahawan ini sempat menuai kritik karena dinilai tidak realistis. Bahkan, program ini sempat diserang saat debat cagub-cawagub yang diadakan oleh KPU.

Acara Oke Oce

Pelatihan Oke Oce. (Foto: Ainul Qalbi/kumparan)

Namun Anies-Sandi bergeming dan mantap menjajakan OK OCE sebagai program andalan –yang bahkan, paling banyak disebut saat debat berlangsung. Bahkan, program ini dianggap sebagai janji kampanye yang sudah terealisasi meski belum terpilih. Lantaran pelatihan-pelatihan OK OCE sudah bergulir bahkan diklaim menghasilkan bibit pengusaha baru.

Lalu, jelang Anies-Sandi dilantik, apa kabarnya OK OCE?

kumparan mencoba mencari tahu dengan mendatangi markas OK OCE yang saat Pilgub ramai diisi dengan kegiatan pelatihan, yaitu Jasmed di Bangka Buntu II, Mampang, Jakarta Selatan.

Tempat ini sesungguhnya hanyalah rumah biasa dengan halaman yang cukup luas. Saat kampanye, beberapa kali Sandi menyambanginya untuk sekadar menyapa warga yang ikut dalam pelatihan OK OCE yang diadakan setiap minggunya.
“Hari ini sedang tidak ada latihan, Mbak,” ungkap seorang penjaga, menjelaskan penyebab sepinya tempat itu.kepada kumparan.

Dia menjelaskan sebenarnya pelatihan masih sering diadakan. Namun, untuk minggu ini sepertinya tidak akan ada pelatihan. Ia kemudian memberikan kontak Hardiyansyah, salah seorang pengurus OK OCE Jasmed. Jasmed sendiri sebenarnya hanya satu dari enam lembaga yang menaungi program OK OCE.

Sandi di Festival Oke Oce

Sandi di Festival Oke Oce. (Foto: Amanaturrosyidah/kumparan)

Saat dihubungi, Hardiyansyah dengan ramah menyebutkan masih membuka tangan lebar jika ada yang ingin bergabung dengan program OK OCE.

“Jadi gini, kita setiap ada pelatihan, nanti trainer akan membuka pendaftaran. Kalau kau ikut, ikuti pelatihannya aja dulu,” jelas Hardiyansyah.

Untuk waktunya sendiri, ia mengaku belum ada jadwal yang rutin. Pasalnya, kegiatan pelatihan masih harus mengikuti jadwal dari trainer.

“Targetnya sih satu minggu satu sampai dua kali. Karena kan kita lihat trainernya juga. Kalau trainernya bisa, bisa satu minggu dua kali. Tapi kadang trainernya sendiri kan ngecancel, ya kita tunda lagi minggu depan,” ungkapnya.

Meski jadwalnya tidak tentu, Hardiyansyah mengaku siapapun yang ingin bergabung bisa menghubunginya untuk mendapatkan jadwal pelatihan berikutnya. Sehingga, saat pelatihan, bisa langsung mendaftar.

Pelatihannya sendiri, biasanya dilakukan di posko Jasmed di Jalan Bangka Buntu II, atau di Jalan Melawai 16 –yang dulunya merupakan posko Anies-Sandi saat masa kampanye.

Selain belajar soal bisnis, Hardiyansyah mengaku peserta OK OCE juga akan mendapatkan ilmu soal branding serta pendampingan dari para trainer.

“Kalau memang bisa dikerjasamakan dengan pihak-pihak lain, nanti kita coba bantu kerjasamakan dengan pihak lain,” tambahnya.

JASMED

Peresmian GARASI Inovasi Oke Oce. (Foto: Amanaturrosyidah/kumparan)

Untuk pemasarannya sendiri, ia mengaku sudah menggandeng beberapa minimarket seperti 212 mart dan tentu saja, OK OCE Mart. Namun, Hadiyansyah mengakui, tidak semua produk binaan OK OCE bisa masuk ke minimarket.

“Untuk masuk ke sana kan ada klasifikasinya nih. Jadi dilihat dulu, kalau memang pasarnya baik, produknya layak untuk dimasukkan ke sana, gitu kan ini baru bisa kita masukkan ke sana. Enggak hanya di OK OCE Mart aja sih, kita targetkan di beberapa market kayak di minimarket 212 dan sebagainya,” jelasnya.

Sementara Sekjen OK OCE, Faransyah Agung Jaya, mengatakan program pembinaan kewirausahaan yang sejak dimulai pada Januari 2017 lalu, hingga saat ini sudah 27 ribu warga yang bergabung.

“Bila berdasarkan data pelatihan. Total sudah di 27 ribu (warga). Rencananya kita akan pendataan ulang setelah pelantikan,” ungkap Sekjen OK OCE, Faransyah Agung Jaya, saat dikonfirmasi kumparan, Senin (9/10).

Dari ribuan warga yang sudah tergabung dalam program pembinaan OK OCE, sudah ada beberapa yang sudah menghasilkan produk, mulai dari kudapan hingga barang-barang seperti sepatu, kerudung, aksesoris, dan kaos. Tak hanya itu, OK OCE Mart kini juga telah membuka beberapa gerai di Jakarta, di antaranya berlokasi di Rawamangun, Muara Angke, Cikajang, dan Kembangan.

OK OCE MART

Penasaran dengan produk UMKM yang diklaim menjadi nilai tambah dari OK OCE Mart, kumparan pun mengunjungi salah satu gerai yang ada di Jalan Cikajang, Jakarta Selatan.

Bentuknya selalu khas, dibangun dengan modifikasi kontainer. Bagian sisi kontainer di potong, untuk kemudian dipasangi pintu kaca dan jendela. Sementara, di bagian lantai, terpasang tegel putih yang membuat toko mungil ini terasa bersih.

“Selamat datang di OK OCE Mart,” seorang penjaga menyambut ramah. Ia bernama Dian.

Berbagai macam produk ditata rapi. Meski tetap menjual berbagai produk ‘mainstream’, namun minimarket ini juga menjajakan berbagai produk UMKM.

Ok Oce Mart

Ok Oce Mart (Foto: Amanaturrosyidah/kumparan)

“Tidak semuanya binaan OK OCE. Ada yang dari luar (OK OCE) juga. Pokoknya asalkan ada yang punya produk, dan produknya layak, ya silakan pasarkan di sini. Kan niatnya memang membantu UMKM,” jelas Dian yang tengah berkutat dengan buku tabel, menghitung sisa stok bulan ini.

Menurut Dian, –selain kelayakan produk– tidak ada syarat khusus untuk menitipkan produknya di sini.

“Yang saya tahu, sistemnya bagi hasil aja sih. Tapi soal jumlahnya, saya kurang tahu,” tambahnya.

Meski produk rumahan, namun seluruhnya dikemas dengan cantik. Rasanya, tidak kalah dengan produk-produk besar yang diletakkan di rak yang sama.

Ada Grubi –produk khas Jambi, ada kripik buah, dan aneka camilan lainnya. Tidak hanya camilan, Dian mengungkapkan, biasanya ada UMKM yang memasok roti dan kue, namun hari itu sedang kosong stoknya.

Di rak obat, yang letaknya tepat di sebelah kasir, ada satu produk UMKM yang cukup menarik. Produk tersebut berupa obat gosok tradisional dan salep ketapang.

Ok Oce Mart

Ok Oce Mart (Foto: Amanaturrosyidah/kumparan)

Seperti namanya, salep ketapang terbuat dari daun ketapang yang dicampur lilin lebah dan minyak wijen. Obat ini dipercaya mampu mengatasi berbagai penyakit kulit ringan, mulai dari gatal hingga jamur dan kudisan.

“Alhamdulillah, penjualan di sini sih baik. Ada aja yang beli setiap hari. Mungkin karena yang dijual juga keperluan sehari-hari dan jajanan ringan,” ujar Dian.

Obrolan kami sempat terhenti sejenak, dengan kedatangan seorang supplier produk rokok. Sambil menunggunya menuntaskan urusan, saya mulai mencari-cari produk yang bisa dibeli.

Saat diluncurkan pertama kali, OK OCE Mart menawarkan harga yang lebih murah dibandingkan minimarket besar saingannya.

Sandi resmikan OK-OCE Mart

Ok Oce Mart diresmikan Sandiaga Uno. (Foto: Amanaturrosyidah/kumparan)

Beberapa produk memang lebih murah dibandingkan toko di sebelahnya, meski hanya selisih tipis. Untuk kelengkapannya sendiri, sebenarnya OK OCE Mart menyediakan beragam jenis produk mulai dari makanan kecil, minum dingin, hingga sabun mandi. Namun, tentu saja tidak selengkap minimarket besar.

“Memang terbatas, karena selain tempatnya juga kecil, yang dijual memang yang kira-kira dibutuhkan saja,” jelas Dian.

Dian mengaku pembelinya paling banyak adalah pengendara yang lewat atau pegawai-pegawai di sekitar lokasi. Itupun, biasanya mereka membeli camilan dan minuman dingin. Meski masa kampanye sudah usai, program OK OCE –dan keluarganya– memang tidak terhenti begitu saja.

Produk OK OCE Mart

Produk OK OCE Mart (Foto: Wandha Nur/kumparan)

Sementara Tim Komunikasi Anies-Sandi, Naufal Firman Yursak, menyebutkan usai kampanye program ini kemudian diubah menjadi lembaga independen.

“Tetapi dia adalah lembaga independen yang tidak bergantung pada pihak manapun termasuk pemerintah. Sifatnya support penciptaan lapangan kerja yang ada di Jakarta. Jadi secara pembiayaan mereka mandiri tidak ada hubungannya dengan pemprov maupun APBD DKI Jakarta,” ungkap Firman.

(Baca juga : SANDIAGA: KAKAK SAYA MASIH PIMPIN OK OCE, TAPI TAK TERIMA DANA DKI)

 

Sumber Berita Program OK OCE Sudah Berjalan, Bagaimana Kondisinya Saat Ini? : Kumparan.com