Putra Mahkota Suadi cari dukungan Trump untuk lawan Houthi
Arab Saudi dilaporkan meminta dukungan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sebelum melancarkan serangan militer ke Bandara Internasional Sanaa, Yaman, yang dikuasai kelompok Houthi.
Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman (MBS) memberi tahu Donald Trump terlebih dahulu dan meminta dukungan Washington sebelum operasi tersebut dilakukan.
Serangan terjadi pada Senin 13 JUli 2026, setelah meningkatnya kekhawatiran Riyadh terhadap penerbangan pesawat milik Mahan Air dari Iran yang mendarat di Sanaa.
Pesawat tersebut sebelumnya mengangkut delegasi Houthi ke Iran untuk menghadiri pemakaman Pimpinan Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Arab Saudi menentang penerbangan tersebut karena khawatir pesawat digunakan untuk mengirim senjata, komponen rudal, atau personel militer Iran kepada Houthi.
Seorang pejabat AS juga menyebut Mahan Air memiliki keterkaitan dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).
Saat pesawat kembali dari Iran menuju Sanaa, militer Saudi membombandirĀ Bandara Sanaa sehingga pesawat terpaksa mengalihkan pendaratan ke Al Hudaydah, di pesisir Laut Merah.
Pemerintah Yaman yang didukung Saudi menyatakan serangan itu bertujuan untuk mencegah pesawat Iran memanfaatkan wilayah Yaman.
Sebagai balasan, kelompok Houthi meluncurkan serangan rudal balistik dan drone ke Banda Abha di Arab Saudi.
Juru bicara Houthi, Yahya Saree, juga memperingatkan maskapai penerbangan agar tidak melintasi wilayah udara Saudi hingga pembatasan terhadap Bandara Sanaa dicabut.
Baca juga: Ribuan calon jemaah haji gagal berangkat, Rp116 miliar lenyap

