Warisan Era Ahok-Djarot yang Terwujud Nyata dan Bukan Janji Palsu

Warisan Era Ahok-Djarot yang Terwujud Nyata dan Bukan Janji Palsu

Warisan Era Ahok-Djarot yang Terwujud Nyata dan Bukan Janji Palsu

Masa kepemimpinan Gubernur Djarot Saiful Hidayat segera berakhir dalam hitungan hari. Bersama pendahulunya, Basuki Tjahaja Purnama, Djarot telah menelurkan sejumlah program bagi penduduk DKI. Beragam warisan Ahok-Djarot ini dinikmati warga DKI, mulai dari yang berupa infrastruktur hingga fasilitas kesehatan serta pendidikan.

Beberapa memang masih dalam proses pembangunan karena target yang dipasang baru selesai tahun depan. Tapi beberapa lainnya sudah dapat dinikmati warga Ibu Kota.

kumparan merangkum sejumlah program Ahok-Djarot yang sudah terealisasi. Berikut daftarnya:

Bidang Infrastruktur dan Jaminan Sosial

1. Pembangunan Transportasi Massal Berbasis: MRT dan LRT

Proyek LRT Rasuna Said

Proyek LRT Rasuna Said (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)

Pembangunan MRT dan LRT sebenarnya dimulai saat Ahok masih menjabat sebagai pendamping Jokowi selaku Gubernur DKI. Jokowi-Ahok memulai pembangunan MRT pada Oktober 2013. Jokowi selaku Gubernur DKI melakukan groundbreaking dari proyek yang ditarget beroperasi pada 2018 itu.

Setelah Jokowi menjadi Presiden pada tahun 2014, proyek ini dilanjutkan oleh Ahok yang menggantikannya sebagai gubernur. Proses pengeboran jalur MRT sepanjang 16 kilometer, dari Lebak Bulus-Bundaran HI, dimulai pada tahun 2015.

Setelah Ahok masuk penjara karena kasus penistaan agama, Djarot melanjutkan pembangunan fase dua, yang menghubungkan Bundaran Hotel Indonesia-Kampung Bandan.

Adapun pembangunan Light Rail Transit Jakarta (LRT) juga sudah dilakukan pada jalur yang menghubungkan Rawamangun-Kelapa Gading. Dalam perencanannya, masih ada jalur lain yang akan dibangun,yakni Kebayoran Lama- Kelapa Gading, Pesing-Kelapa Gading, Pesing-Bandara Soekarno Hatta, Cempaka Putih-Ancol, Tanah Abang-Pulomas, Joglo-Tanah Abang, Puri Kembangan-Tanah Abang, Bandara Soekarno Hatta-Kemayoran.

Nantinya, LRT yang dibangun oleh Pemprov DKI akan terintegrasi dengan jalur yang ada di daerah penyangga yaitu Bogor dan Bekasi.

2. Kartu Jakarta Pintar dan Kartu Jakarta Sehat

Pembagian Kartu Jakarta Pintar (KJP)

Selain infrastruktur, program jaminan sosial berupa fasilitas pendidikan dan kesehatan menjadi salah satu warisan Jokowi-Ahok yang kemudian dilanjutkan oleh Ahok-Djarot. Jokowi-Ahok meluncurkan Kartu Jakarta Pintar dan Kartu Jakarta Sehat saat pertama kali resmi menjadi Gubernur pada tahun 2012.

Melaui Kartu Jakarta Pintar misalnya, siswa sekolah dari kalangan tak mampu bisa bersekolah gratis sampai jenjang SMA/SMK. Tak hanya itu, para siswa juga diperbolehkan membeli barang keperluan sekolah menggunakan kartu tersebut.

Selain itu, adapula Kartu Jakarta Sehat yang diberikan kepada warga tidak mampu untuk berobat. Cukup dengan KJS, warga tak mampu bisa berobat gratis ke Puskesmas, Rumah Sakit Umum dan Daerah, serta Rumah Sakit swasta yang bekerjasama dengan Jaminan Kesehatan Daerah. Baik KJP maupun KJS, pembiayaanya dilakukan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

3. Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA)

Suasana RPTRA Kalijodo

Suasana RPTRA Kalijodo (Foto: Nabilla Fatiara/kumparan)

Di masa-masa akhir pemerintahan, pasangan Ahok-Djarot melakukan pembangunan Ruang Terpadu Ramah Anak (RPTRA) secara masif. Tak tanggung-tanggung, Ahok-Djarot menargetkan membangun 200 RPTRA hingga akhir jabatan.

RPTRA merupakan tempat bermain, berkumpul, dan berolahraga bagi anak-anak. Dengan pengawasan ketat di RPTRA, diharapkan anak-anak dapat bermain dengan aman. Ahok-Djarot beralasan RPTRA perlu dibangun secara masif juga untuk mencegah anak-anak dan remaja terserang narkoba.

“Kenapa kami ingin membangun minimal 200 RPTRA, supaya bisa kita kenalin anak-anak itu karena anak-anak itu didata dengan aplikasi. Kita tahu persis anak-anak di mana, hobinya apa dan main di mana. Makanya kita butuh banyak RPTRA,” kata Ahok di Jakarta, Minggu (19/3).

Selain itu, RPTRA tak hanya berfungsi bagi anak-anak. Pemprov DKI juga menyediakan berbagai pelatihan bagi ibu-ibu di RPTRA.

Tidak hanya bagi anak-anak, para ibu juga bisa mendapatkan pelatihan kerajianan di RPTRA. Pada Selasa (10/10 kemarin, Djarot meresmikan sekaligus 100 RPTRA. Kini sudah ada 292 RPTRA yang tersebar di seluruh wilayah Jakarta.

4. Pasukan Pelangi

Pasukan oranye membersihkan sampah di Bintaro

Pasukan oranye membersihkan sampah di Bintaro. (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)

Pasukan Pelangi merupakan sebutan dari petugas Pekerja Penanganan Sarana dan Prasarana Umum (PPSU). Mereka merupakan pekerja harian lepas dan digaji sekitar Rp 3,3 juta.

Pasukan pelangi ini terdiri dari Pasukan Oranye, Pasukan Merah, Pasukan Biru, Pasukan Kuning, Pasukan Ungu, Pasukan Putih, dan yang baru diresmikan, Pasukan Pink. Masing-masing pasukan memiliki tugasnya masing-masing.

Contohnya, Pasukan Oranye untuk membersihkan lingkungan, Pasukan Merah untuk program Bedah Rumah, Pasukan Pink untuk mengurus RPTRA. Sementara itu, Pasukan Biru bertugas mengurusi saluran air, Pasukan Kuning untuk perbaikan sarana dan prasarana, Pasukan Ungu untuk mengurus masyarakat terlantar, dan Pasukan Putih untuk memudahkan pengurusan perizinan di Jakarta.

Capaian Ekonomi dan Lingkungan

1. Ekonomi:

Perbaikan Jalur Pedestrian Tanah Abang

Perbaikan Jalur Pedestrian Tanah Abang (Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan)

Berdasarkan laporan pertanggungjawaban Gubernur DKI Djarot Saiful Hidayat, dalam kurun waktu 5 tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta berkisar antara 5,85 persen-6,11 persen. Rata-rata 5,95 persen per tahun.

Jumlah ini selalu berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional yang berkisar antara 4,79 persen hingga 5,78 persen.

Pemprov DKI juga berhasil mengurangi jumlah pengangguran terbuka. Di tahun 2012, pengangguran terbuka di Jakarta mencapai 9,87 persen. Jumlah tersebut pun berkurang di tahun 2016 di mana tingkat pengangguran terbuka menjadi 6,12 persen.

2. Indeks Pembangunan Manusia:

Indeks Pembangun Manusia Jakarta, melebihi rata-rata nasional. Di tahun 2013, IPM Jakarta mencapai 70,08 persen. Sedangkan di tahun 2016, IPM Jakarta mencapai sebesar 79,6 persen, atau di atas rata-rata nasional 69,24 persen.

3. Titik Banjir:

Beberapa Titik Jakarta Pusat masih banjir.

Beberapa Titik Jakarta Pusat masih banjir. (Foto: Nikolaus Harbowo/kumparan)

Permasalahan banjir merupakan tantangan rutin Jakarta. Berkat sejumlah pembangunan waduk di sejumlah titik, seperti Waduk Pluit, Jakarta Utara dan Waduk Ria-rio di Jakarta Timur, titik banjir menjadi berkurang. Berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta, dalam 5 tahun pengurangan terjadi pengurangan jumlah titik banjir. Dari yang semula terdapat 62 titik banjir, menjadi 20 titik banjir.

(Baca juga : PKS SALAHKAN DJAROT, SEBAB PROGRAM RUMAH DP RP 0 BELUM BISA TERLAKSANA)

(Baca juga : TAGIH JANJI ANIES-SANDI TIDAK DIGUSUR, WARGA BANGUN KEMBALI KAMPUNG AKUARIUM)

(Baca juga : TIM SINKRONISASI, ANIES-SANDI DIMINTA HABISKAN APBD RP 420 M PER HARI)

 

Sumber Berita Warisan Era Ahok-Djarot yang Terwujud Nyata dan Bukan Janji Palsu : Kumparan.com