Bangkai Kapal USS Houston Terancam, RI Terima Hibah Rp4 M

Bangkai Kapal USS Houston Terancam, RI Terima Hibah Rp4 M

Bangkai kapal USS Houston terancam, RI terima hibah Rp4 M

Pemerintah Amerika Serikat memberikan hibah sebesar 227.000 dolar AS atau sekitar Rp4 miliar kepada Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Indonesia. Bantuan ini menjadi bagian dari kerja sama kedua negara untuk melindungi bangkai kapal perang USS Houston yang berada di dasar perairan Teluk Banten, Banten.

Kapal tersebut merupakan peninggalan bersejarah dari Perang Dunia II yang kini menghadapi berbagai ancaman kerusakan.

Melalui program Protection of the World War II Shipwreck Site of the USS Houston, upaya konservasi akan dilaksanakan selama dua tahun, mulai akhir 2026 hingga pertengahan 2028.

Program ini tidak hanya berfokus pada kondisi fisik bangkai kapal, tetapi juga melibatkan masyarakat pesisir dalam menjaga kawasan bersejarah tersebut.

Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, menyampaikan bahwa perlindungan warisan budaya bawah laut membutuhkan dukungan berbagai pihak.

Kolaborasi antarnegara, penerapan ilmu pengetahuan, serta keterlibatan warga pesisir dinilai penting untuk memastikan situs bersejarah tetap terpelihara.

Untuk mendukung pelaksanaan program, KKP akan membentuk tiga Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) di Pulau Panjang, Karangantu, dan Bojonegara.

Anggota kelompok tersebut akan mendapatkan pelatihan pemantauan lokasi, pelaporan pelanggaran, serta kegiatan edukasi publik melalui berbagai media, termasuk pameran digital.

Langkah ini sekaligus menjadi respons terhadap sejumlah persoalan yang teridentifikasi dalam survei KKP pada 2015 dan 2018.

Jaring nelayan yang tersangkut, sampah laut, dan aktivitas penangkapan ikan ilegal tercatat sebagai faktor yang berpotensi merusak bangkai kapal.

USS Houston tenggelam bersama kapal perang Australia HMAS Perth setelah pertempuran di Selat Sunda pada 28 Februari hingga 1 Maret 1942.

Peristiwa tersebut menjadi bagian penting dari sejarah peperangan di kawasan Asia Tenggara.

Saat ini, kedua bangkai kapal memiliki nilai sejarah yang melampaui peninggalan militer. Keberadaannya menjadi pengingat pengorbanan para prajurit sekaligus warisan maritim yang menghubungkan Indonesia, Amerika Serikat, dan Australia.

Baca juga: Mantan anggota TNI di Cakung dibacok tetangga, kepala terluka