Mengetahui Syarifa Perempuan Wayang Boneka Tangan dari Tradisi Tionghoa Terkenal di Nusantara

Mengetahui Syarifa Perempuan Wayang Boneka Tangan dari Tradisi Tionghoa Terkenal di Nusantara

Mengetahui Syarifa perempuan Wayang Boneka Tangan dari Tradisi Tionghoa terkenal di Nusantara

Syarifa Syifaa Urrahmah dikenal sebagai salah satu dalang perempuan wayang potehi di Indonesia, seni pertunjukan boneka tangan yang berasal dari tradisi Tionghoa dan berkembang di Nusantara, khususnya di komunitas Tionghoa-Indonesia.

Selama 7 tahun, dunia potehi didominasi laki-laki. Dalam tradisi asalnya, peran dalang diwariskan dari ayah kepada anak atau murid laki-laki, sehingga akses perempuan sangat terbatas.

Kehadiran Syarifa menjadi suatu yang berbeda sekaligus membuka ruang baru.

Ia tumbuh dalam lingkungan yang dekat dengan seni dan tradisi, serta merupakan lulusan pendidikan Sastra Jawa di Universitas Indonesia.

Ketertarikannya pada wayang potehi muncul dari interaksi dengan komunitas budaya Tionghoa dan para seniman tradisi.

Perjalanannya dimulai ketika bergabung dengan komunitas seni Rumah Cinta Wayang (Cinwa) di Depok, Jawa Barat, tempat ia mengenal potehi sebagai bentuk akulturasi budaya.

Menjadi dalang bukan hal yang mudah. Selain menguasai teknik memainkan boneka, ia harus memahami cerita, filosofi, dan nilai budaya dalam pertunjukan potehi, termasuk mempelajari bahasa Hokkien yang digunakan dalam nyanyian pembuka.

Ia tak hanya belajar aspek teknis, tetapi juga menghadapi stigma tradisi yang selama ini dekat dengan laki-laki.

Syarifa memulai dari panggung kecil. Seiring waktunya, kemampuan berkembang menguasai gerak boneka, memahami cerita klasik potehi, mengola vokal dan dialog, hingga mengatur ritme pertunjukan.

Namanya kemudian dikenal sebagai dalang perempuan yang serius dan konsisten menjaga tradisi.

Tak hanya tampil sebagai dalang, ia juga aktif dalam palestarian wayang potehi melalui pertunjukan lintas komunitas, edukasi bagi generasi muda, dan kolaborasi dengan seniman modern.

Baca juga: Tasya Kamila cerita pengabdian sebagai alumni LPDP di tengah kasus Dwi Sasetyaningtyas