Guruh Soekarnoputra berpulang, Asri Welas kenang sosok ayah
Bagi Asri Welas, Guruh Soekarnoputra bukan sekadar nama besar dalam dunia seni Indonesia.
Selama bertahun-tahun, Guruh menjadi sosok yang memberikan banyak pelajaran sekaligus perhatian layaknya seorang ayah.
Perkenalan Asri dengan Guruh dimulai sejak ia masih berusia 11 tahun, pada 1989, Asri bergabung dengan kelompok seni yang berada di bawah arahan Guruh dan mulai mengenal lebih dekat sosok yang kemudian banyak memengaruhi perjalanan hidupnya.
Kedekatan mereka semakin terasa setelah Asri kehilangan ayah kandung saat berusia 17 tahun.
Sejak saat itu, Guruh menjadi salah satu figur penting yang membuat Asri merasa tetap memiliki sosok ayah untuk dijadikan tempat belajar.
Ada satu kejadian semasa sekolah yang hingga kini masih diingat Asri, ketika mendapat tugas membuat puisi, ia berada dalam situasi sulit karena harus segera mengikuti latihan tari bersama Guruh.
Alih-alih membiarkan tugas tersebut terbengkalai, Guruh justru membantu Asri menyelesaikannya. Puisi berjudul “Mercusuar” itu kemudian mendapat nilai 100 dari guru di sekolahnya.
Asri baru mengetahui bahwa puisi tersebut dibuat oleh Guruh, isi karya itu juga memberikan pelajaran tersendiri mengenai keberadaan mercusuar yang tetap berguna bagi banyak orang dengan memberikan arah di tengah laut.
Perhatian Guruh terhadap Asri tidak berhenti ketika masa sekolah berakhir.
Saat Asri mulai berkarier sebagai artis, Guruh disebut masih mengikuti perkembangan pekerjaannya dan memberikan masukan terhadap berbagai pencapaiannya.
Kritik serta nasihat dari Guruh menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan Asri di dunia hiburan.
Tidak heran jika kepergian Guruh membuat Asri merasakan kehilangan yang begitu besar.
Di tengah kesedihan tersebut, Asri memilih mengenang berbagai kebaikan yang pernah diterimanya.
Ia mengaku membawa banyak nilai kehidupan dari sosok Guruh dan merasa bersyukur pernah mendapatkan kesempatan untuk belajar langsung darinya.

