Nikita Mirzani ungkap yang dirasakan saat filmnya rilis Bioskop
Film Beautiful Pain menjadi salah satu karya yang memiliki arti tersendiri bagi Nikita Mirzani. Setelah melalui proses penantian selama empat tahun, film yang diproduserinya itu akhirnya siap menyapa masyarakat di bioskop mulai 22 Oktober 2026.
Namun, ada satu hal yang membuat momen tersebut terasa berbeda bagi Nikita, yakni ketidakmampuannya hadir secara langsung karena masih menjalani masa tahanan.
Kondisi itu membuat Nikita harus melewatkan berbagai agenda promosi filmnya. Ia hanya bisa menyampaikan perasaan dan harapannya melalui sebuah video yang direkam dari Warung Telekomunikasi Khusus Lapas (Wartelsuspas).
Rekaman tersebut diputar dalam konferensi pers Beautiful Pain di Epicentrum XXI, Jakarta Selatan, Kamis 15 Oktober 2026.
Dalam pesannya, Nikita tidak menutupi kesedihan karena harus berjarak dari karya yang telah lama dinantikan kehadirannya.
“Rasanya sedih banget karena ini film yang aku tunggu-tunggu, namun aku sendiri enggak ada di situ,” ungkap Nikita Mirzani.
Ia juga menyampaikan bahwa ketidakhadirannya bukan berarti dirinya terlepas dari perjalanan film tersebut. Nikita merasa tetap menjadi bagian dari karya itu, meskipun keberadaannya tidak dapat disaksikan secara langsung.
“Dari lubuk hatiku yang terdalam, aku ada di sana tanpa bisa kalian lihat,” katanya.
Dalam Beautiful Pain, Nikita turut mengambil peran sebagai Marcella. Meski memiliki keterlibatan langsung dalam film tersebut, ia menegaskan bahwa cerita yang diangkat tidak hanya berpusat pada kehidupan pribadinya.
Nikita memandang film ini sebagai medium untuk menyampaikan pesan kepada perempuan Indonesia.
Ia ingin kisah yang disajikan mampu menggambarkan pentingnya keberanian dalam menghadapi keadaan sulit, menentukan pilihan, dan memperjuangkan kehidupan yang lebih baik.
“Ini bukan film soal Nikita Mirzani, tapi ini film tentang semua wanita Indonesia yang berani berjuang, berani mengambil risiko, berani melangkah lebih jauh lagi ke depan,” tuturnya.
Ia turut menyoroti perempuan yang masih merasa ragu ketika harus mengambil keputusan besar. Terlebih bagi ibu rumah tangga, rasa takut terhadap perubahan maupun konsekuensi dari sebuah pilihan terkadang menjadi penghalang untuk melangkah.
Menurut Nikita, kemauan yang kuat dapat membantu seseorang menghadapi ketakutan tersebut. Ia berharap perempuan tidak terus membatasi diri hanya karena khawatir terhadap pandangan orang lain.
Pesan Nikita juga menyentuh persoalan harga diri dan stigma sosial yang kerap dialami perempuan.
Sebagai ibu tunggal yang membesarkan tiga anak, ia menilai status janda tidak semestinya menjadi alasan untuk merasa malu atau kehilangan kepercayaan diri.
Baginya, setiap perempuan berhak menentukan arah hidupnya sendiri tanpa harus tunduk pada cibiran lingkungan.
Ia mengingatkan bahwa orang lain belum tentu mengetahui kesulitan yang telah dilewati seseorang untuk bertahan dan memperjuangkan masa depannya.
“Kita menjadi seorang janda itu bukan suatu kehinaan. Jangan takut dicemooh sama tetangga karena mereka enggak tahu apa-apa tentang kita,” pesannya.
Melalui Beautiful Pain, Nikita berharap perempuan semakin berani mencintai diri sendiri, mempertahankan hak, dan mengambil langkah demi masa depan anak-anak mereka.

